oleh

Penggunaan Pewarna Alami Daun Sirih Gading Pada Kombinasi Batik Tulis Dan Teknik Jumputan

Penggunaan batik pewarna alami tidak merusak lingkungan dan bahan yang digunakan mudah di dapatkan, salah satunya pewarnaan batik alami menggunakan daun sirih gading, daun sirih gading tumbuh dengan subur dan merambat, daunnya lebat dan lebarnya mencapai 30 cm.

Pengembangan dalam bidang batik perlu di lakukan yaitu bertujuan untuk menambah variasi batik yang sudah ada serta sebagai salah satu cara melestarikan batik.

Kurangnya minat pembatik menggunakan pewarna alami juga menjadi salah satu alasan judul ini di ambil, metode yang di gunakan yaitu eksperimen skala kecil.

Proses kombinasi batik tulis dan teknik jumputan yaitu kain di gambar kemudian pola gambar pada kain di canting menggunakan lilin panas, setelah itu kain di jumput dengan pola yang telah di tentukan.

Proses pewarnaan daun sirih gading di lakukan dengan cara di celup sebanyak 5x dan di fiksasi menggunakan tunjung.

Ragam warna yang di hasilkan sirih gading

Proses terakhir ialah menghilangkan lilin, hasil yang di peroleh dalam eksprerimen yang telah di lakukan adalah warna daun sirih gading dalam kombinasi batik tulis dan teknik jumputan yaitu hijau keabu-abuan.

Kain batik yang bagus memiliki pewarnaan atau hasil warna yang tajam yaitu salah satunya dapat di pengaruhi oleh jenis kain. Kain yang mudah menyerap pewarna dengan baik adalah kain katun, katun memiliki bahan dasar berupa kapas yang di kenal sebagai penyerap yang baik.

Selain itu banyaknya pencelupan mempengaruhi hasil warna pada kain, semakin banyak pencelupan semakin pekat hasil yang di dapatkan.

Bahan pewarna alami yang mudah di dapatkan dan memiliki hasil yang baik salah satunya adalah daun sirih gading, daun sirih gading adalah tanaman merambat, daun sirih memiliki lebar daun delapan sentimeter (8 cm) dan dapat tumbuh lebih dari tigapuluh sentimeter (30 cm).

Baca :  Desain Motif Batik Tanah Liek

Tanaman sirih gading tergolong dalam tanaman hias yang mudah dan cepat tumbuh, penggunaan daun sirih menghasilkan bahwa warna yang di hasilkan adalah hijau keabu-abuan.

Berbeda dengan batik tulis maupun cap batik jumput merupakan cara pembuatanya yaitu dengan mengambil sedikit atau sebagian kain dalam istilah jawa yaitu di jumput, kemudian kain di ikat menggunakan tali.

Proses jumput terbilang mudah dan prosesnya lebih cepat di banding dengan menggunakan canting tulis, dari ulasan tersebut penulis melakukan penelitian “proses penggunaan daun sirih gading pada kombinasi batik tulis dan teknik jumputan”, untuk meningkatkan keberagaman batik dan memperkaya variasi batik serta teknik yang di gunakan.

Hal ini penting di lakukan dengan uji coba dalam skala kecil dalam pengembangan penggunaan daun sirih gading pada batik tulis yang di kombinasikan dengan teknik jumput.

Penggunaan daun sirih gading pada kombinasi batik tulis dan teknik jumputan proses yang di lakukan adalah mengolah kain. Kain yang di gunakan adalah jenis kain katun yang di kenal sebagai penyerap warna yang baik.

Kain tersebut di beri pola gambar yang telah di siapkan menggunakan alat tulis, sehingga kain memiliki skets gambar untuk di lakukan pada proses berikutnya yaitu mencanting.

Proses mencanting yaitu proses menutup pola gambar menggunakan alat bantuan canting dan lilin panas, gunanya lilin yaitu agar warna tidak masuk pada serat kain sehingga akan membentuk motif gambar yang di kehendaki seperti sketsa yang di buat.

Kemudian untuk teknik jumput sebagai kombinasi dari batik tulis di buat dengan cara membuat pola bagian-bagian yang akan di jumput sebagai motif.

Proses menjumput di lakukan menggunakan alat bantu berupa manik manik kecil dan karet, setelah proses membatik dan menjumput kain barulah berlanjut pada proses pencelupan, yang di perlukan dalam proses pencelupan adalah pewarna yang siap untuk di proses celup.

Baca :  Teknik Canting Tulis

Proses mengolah warna di sebut sebagai ekstraksi, penggunaan daun sirih gading sebagai pewarna alami di lakukan dengan cara di blender. Proses di blender menggunakan bahan pelarut berupa air.

Proses pencelupan pada kain batik tulis di kombinasikan teknik jumput di lakukan sebanyak 5x dengan fiksasi tunjung, gunanya fiksasi yaitu untuk mempertahankan warna agar tidak luntur, proses fiksasi di lakukan sebanyak 2x.

Proses pengulangan pencelupan di lakukan setelah kain yang diproses dalam keadaan kering, barulah di celup kembali hingga 5x. Setelah proses pencelupan pewarna daun sirih gading dan fiksasi proses selanjutnya adalah proses menghilangkan lilin.

Proses menghilangkan lilin atau ngelorod di lakukan dengan cara merebus kain pada panci berisi air panas mendidih di atas api hingga kain lilin pada kain tidak lagi terlihat.

Barulah setelah kain di lorod kain dapat di cuci dengan air biasa dan di lanjutkan dengan proses menjemur, setelah kering barulah kain dengan penggunaan daun sirih gading pada kombinasi batik tulis dan teknik jumputan dapat di gunakan.

Komentar

Tinggalkan Balasan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru