oleh

Ragam Hias Batik

Ragam hias batik pada umumnya di pengaruhi dan erat kaitannya dengan faktor-faktor lainnya, yaitu :

  • Letak geografis daerah pembuat batik bersangkutan.
  • Sifat dan tata penghidupan daerah yang bersangkutan.
  • Kepercayaan dan adat istiadat yang ada di daerah yang bersangkutan.
  • Keadaan alam sekitarnya, termasuk flora dan fauna.
  • Adanya kontak atau hubungan antar daerah pembatikan.

Sejak jaman penjajahan Belanda, pengelompokkan batik di tinjau dari sudut daerah pembatikan dan ciri khasnya yang di bagi dalam 2 kelompok besar, yaitu :

a. Batik Vorstenlanden (Batik Solo dan Yogya)

Batik Vorstenlanden memiliki ragam hias bersifat simbolis berlatarkan budaya Hindu-Budha dan memiliki warna sogan, indigo (biru), hitam dan putih. Batik Jawa (Batik Solo dan Yogya) merupakan batik yang sarat makna perlambangan atau simbol-simbol, karena batik yang berkembang di daerah Vorstenlanden ini sangat erat
kaitannya dengan tata kehidupan keraton.

Batik Jawa berkaitan dengan falsafah kebudayaan Jawa yang bersumber pada suatu pandangan alam pikiran asli pribumi Jawa yang di sebut Kejawen.

Kejawen adalah falsafah asli pribumi Jawa yang tidak tersentuh oleh pengaruh-pengaruh Barat ataupun Arab.

Kejawen merupakan “Seni” menjadi manusia Jawa seutuhnya, yaitu ajaran yang terbentuk dari kebatinan, suatu sinkretisme antara kepercayaan asli Jawa dengan Hinduisme, Budhisme dan Islam.

Batik keraton dalam kehidupan orang Jawa memiliki kandungan rohaniah, karena di anggap sebagai media perenungan dan meditasi, kegiatan membatik menjadi media dalam mendekatkan diri pada Tuhan yang Maha Kuasa.

Aturan penggunaan ragam hias batik di sesuaikan dengan tingkat keningratan atau kebangsawanan, yaitu hak penggunaan sekelompok corak yang terbatas untuk raja dan keluarga dekatnya.

Corak-corak tersebut disebut dengan corak larangan yang artinya masyarakat umum yang bukan ningrat tidak di perbolehkan memakainya.

Baca :  Tentang Budaya Dan Corak Batik

b. Batik Pesisir (Batik Indramayu, Garut, Cirebon, Pekalongan, Lasem, Madura dan Jambi)

Batik Pesisir memiliki ragam hias bersifat naturalistis dan dipengaruhi berbagai kebudayaan asing (misalnya Cina) dan memiliki warna beraneka ragam, misalnya di Garut usaha batik tulis telah tumbuh pada masa Kolonial Belanda, tetapi usaha ini pernah terhenti pada masa menjelang kemerdekaan Indonesia sekitar tahun 1940, karena situasi tidak memungkinkan.

Pada tahun 1656, urusan VOC datang ke Ibukota Mataram, di sana terdapat kegiatan kerajinan seperti tenun, menjahit dan membatik, pada tahun 1915 di bentuk komisi untuk industrialisasi, tetapi komisi itu lebih banyak menggarap bahan mentah menjadi bahan jadi untuk pemerintah penjajahan (menurut laporan Van Der Kamp).

Pada tahun 1918, bagian kerajinan di bentuk di bawah Departemen Pertanian, beberapa kerajinan yang mendapat perhatian antara lain yaitu pertenunan, keramik dan bata merah serta perkulian.

Setelah pemerintahan Republik Indonesia berdiri, maka pada sekitar tahun 1949 usaha pembatikan di kabupaten Garut tumbuh kembali dan di kerjakan oleh beberapa keluarga pengrajin.

Batik Garutan berkembang pesat, sehingga pada tahun 1960-an jumlah pengrajin batik di kabupaten Garut mencapai kurang lebih 30 unit usaha yang menyerap 300 tenaga kerja.

Fungsi kain batik Garutan awalnya sebagai kain panjang yang di pakai dengan kebaya, sebagai penggendong barang, pada perkembangannya batik Garutan berfungsi sebagai bahan tekstil untuk busana dan sebagai bahan untuk membuat pelengkap busana seperti dasi.

Batik motif parang yang di pakai Kartini adalah pola untuk para bangsawan, batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia khususnya daerah Jawa.

Wanita Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif wanita sampai di temukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya pria dalam bidang membatik ini.

Baca :  Teknik Canting Tulis

Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa di lihat pada corak “Mega Mendung”, di mana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum pria.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun-temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu.

Beberapa motif batik dapat menunjukkan status sosial seseorang, bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tradisional hanya di pakai oleh keluarga Keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru