oleh

Tentang Batik Tanah Liek Sumatera Barat

Batik adalah lukisan atau gambar pada mori yang dibuat dengan alat yang namanya canting, orang melukis atau menggambar atau menulis pada mori memakai canting disebut membatik (bahasaJawa: mbatik).

Membatik menghasilkan batik atau batikan berupa macam-macam motif dan mempunyai sifat-sifat khusus yang dimiliki oleh batik itu sendiri”.

Tradisi membatik yang terdapat di pulau Sumatra hingga saat ini terus dilestarikan, diantaranya Batik Jambi dari Jambi, Batik Basurek dari Bengkulu dan di Sumatera Barat dengan batik Tanah Liek (tanah liat) dan Batik Tanah Liek merupakan batik yang menjadi ciri khas Minangkabau.

Batik yang menggunakan pewarna alam dari tanah liat, proses pembuatannya sama dengan batik pada umumnya, hanya saja proses pewarnaannya menggunakan tanah liat.

Tanah liat atau biasanya orang Sumatera Barat menyebutnya Tanah Liek, tanah liat adalah salah satu dari jenis tanah hasil dari pelapukan kulit bumi, “Tanah liat berasal dari kerak bumi, yang terjadi karena pelapukan dan erosi angin air dan gletser hingga berbentuk halus”.

Jenis tanah yang telah lama dikenal sebagai bahan kerajinan tertua didunia ini cendrung memiliki warna yang gelap seperti banyak jenis tanah lainnya, tetapi secara fisik tanah yang memiliki kandungan air ini sangat plastis, lunak dan licin.

Tanah liek terbentuk melalui proses alami yang bermula dari pelapukan kulit bumi, terkait dengan hal tersebut, bahwa: Tanah liat adalah salah satu dari jenis tanah hasil dari pelapukan kulit bumi. Jenis tanah ini termasuk klasifikasi alfisol atau tanah besi aluminium. Tanah ini adalah batuan feldspar yang mengandung material alumina (A1203) dan silica (SiO2) bercampur potash (K2O) dan soda (Na2O).

Setelah melalui proses pelapukan yang panjang dan berabad-abad, maka bahan potash dan soda memisahkan diri dari feldspar. Setelah itu tinggalah bahan alumina dan silica bercampur air dan bahan mineral yang kotor
(impurities).

Motif Batik Tanah Liek Padang Sumatera Barat
Motif Batik Tanah Liek Padang Sumatera Barat

Bahan inilah yang dinamakan tanah liat (clay), tanah liat terbentuk dari proses pelapukan kulit bumi yang sangat lama, dimana mengakibatkan terjadinya reaksi kimia sehingga menghasilkan bahan alumina dan silica serta mineral kotor yang disebut sebagai tanah liat.

Hal tersebut belum cukup untuk membuktikan bagaimana sebenarnya tanah liat tersebut,secara spesifik dijelaskan, “bahwa tanah liat terdiri dari butiran-butiran halus.” Demikian halusnya malahan mencapai ukuran dari 1 mikron (1/ 1000 mm).

Disebabkan demikian halusnya itu pula maka tanah liat dapat berpindah-pindah serta mudah larut di dalam air”. Bila dilihat dari bahan pewarna yang digunakan dan cara pembuatan, teknologi pembuatan batik Tanah Liek ini merupakan teknologi tertua dalam pembuatan batik di Indonesia.

Diduga batik ini muncul dari pengaruh kebudayaan Cina, teknik rintang warna menggunakan material-material alami, seperti lilin, beras dan umbi-umbian yang dilumatkan, bahkan lumpur yang dibubuhkan pada selembar kain simultan di mana- mana, sejak sebelum Masehi di Mesir, pada masa dinasti Tang abad ke-8 di Cina, bahkan di Afrika, India juga Jepang hingga saat ini.”

Karena ada motif burung hong pada batik tanah liek kuno yang masih tersisa, maka ada dugaan bahwa batik tanah liek berasal dari Cina, namun pengaruh Cina memang terasa pada produksi batik di Jawa ketika Cina perantauan mulai masuk ke Jawa pada abad ke-13, dan mulai membuat motif Cina pada batik sejak abad ke-19. Sehingga yang lebih mungkin adalah pedagang Cina dari Jawa yang membawanya ke ranah Minang, ketimbang pedagang Cina yang membawa kain dari negeri Cina.

Pembatikan di Indonesia berpusat di pulau Jawa, sedangkan di Sumatera (Padang), induk-induk batik di beberapa daerah di Indonesia, antara lain di Yogyakarta, Ciamis, Wonogiri, Trenggalek dan Padang.

Motif batik Tanah Liek banyak terinspirasi dari binatang-binatang seperti kuda laut dan burung hong yang merupakan motif kuno batik Minangkabau ini.

Pewarnaan batik Tanah Liek aslinya memanfaatkan pewarna alam sebagai contoh bahan tersebut salah satunya ialah tanah liat, batik yang direndam dalam tanah liat untuk memunculkan warna yang berbeda, pewarnanya pun berasal dari tumbuhan, seperti getah gambir untuk warna merah atau getah kulit jengkol untuk warna hitam.

Perendaman ini bisa memakan waktu lebih dari satu hari untuk mendapatkan ketahanan warna tanah yang menyatu dengan kain.

Menggiatkan kembali kerajinan membatik, terdapat tiga pusat pembuatan batik Tanah Liek di Propinsi Sumatera Barat, yakni di Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pesisir Selatan dan di Kota Padang.

Di Kota Padang terdapat dua sentra produsen batik Tanah Liek, yaitu Batik Tanah Liek Inaayah dan Sanggar Citra Monalisa. Sanggar Citra Monalisa di Kota Padang tepatnya di Jalan Sawahan Dalam 33 , sanggar ini ikut melestarikan kembali batik Tanah Liek di Sumatera Barat yang hampir punah.

Batik ini diperkenalkan kembali pada tahun 1994 oleh Wirda Hanim, awalnya Wirda Hanim melihat batik ini digunakan oleh beberapa Bundo Kanduang di Nagari Sumanik, Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Beliau tertarik dengan batik yang langka tersebut dan berniat untuk membangkitkan kembali seni kerajinan batik Tanah Liek yang hampir punah.

Keberadaan dan kegunaan kain batik Tanah Liek di Minangkabau sejak dahulu terbatas sebagai pelengkap pakaian adat, tapi sekarang ini kain batik ini tidak lagi menjadi pakaian adat sudah banyak masyarakat Minangkabau menggunakan kain batik tersebut untuk pakaian sehari-hari.

Selendang batik Tanah Liek untuk upacara adat Minangkabau yang dasarnya memang berwarna kecoklatan seperti warna tanah liat dengan motif hiasan flora dan fauna sedangkan dasar kain yang dipakai umumnya adalah kain sutera.

Pembuatan desain batik Tanah Liek dilakukan sendiri oleh para perajin yang diperoleh dari belajar dan pengalaman, dilakukan dalam usaha menemukan hal-hal baru pada desain batik Tanah Liek dan mengembangkan desain-desain yang sudah ada, para perajin tidak mendapatkan pengetahuan desain secara khusus, akan tetapi batik Tanah liek membuat motif-motif yang dapat menarik perhatian konsumen untuk membeli produknya.

Motif yang digunakan adalah motif-motif yang terdapat pada ukiran Minangkabau, motif tersebut distilasikan kembali supaya sesuai dengan kemungkinan untuk dijadikan motif batik, dengan kata lain, motif hias Minangkabau berpadu dengan motif batik tanah liek, perpaduan tersebut menghasilkan batik yang unik dan menarik untuk dikaji selanjutnya.

Lebih jauh, di dalam proses pengerjaan batik, desain motif dan teknik batik sangat berpengaruh terhadap produk batik yang dihasilkan, walaupun para perajin batik dihadapkan kepada berbagai keterbatasan dan kekurangan seperti kemampuan mendesain, pengembangan motif dan teknik.

Baca :  Batik, Sejarah Dan Keberadaannya Di Masyarakat

Komentar

Tinggalkan Balasan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Terbaru